Selasa, 09 September 2008

my journey 2

Saya, Johnny dan Rudi bertekad untuk membalaskan kekalahan pelatih kami dan menunjukan bahwa Jiu jitsu I.J.I adalah yang terbaik di arena TPI FC. Kami pun mulai berlatih keras setiap hari. Akhirnya tiba pertarungan pertama kami, yang pertama bertarung adalah saya, melawan seorang petinju, saya berhasil mengalahkannya di ronde pertama dengan TKO. Kemudian Johnny melawan seorang pesilat, Johnny mengalami kekalahan di ronde ketiga setelah kehabisan tenaga. Rudi bertarung melawan seorang pesilat dan berhasil menang KO di ronde pertama. Tanpa terasa saya telah empat kali bertarung di TPI FC dan memenangi semua di ronde pertama. Pertarungan kedua Rudi melawan seorang petarung bebas, Rudi mengalami kekalahan di ronde kedua setelah kehabisan tenaga. Dengan gugurnya kedua rekan berlatih saya ini, saya jadi bertanya-tanya, kenapa mereka tidak sukses seperti saya? kami berlatih bersama, belajar teknik yang sama dan dari guru yang sama. Setelah saya analisa, inilah kesimpulan saya:

1. Mental, saya menyadari ketika diatas ring, dengan disorot begitu banyak lampu dan kamera dan disaksikan oleh banyak orang dapat mengganggu konsentrasi dan mental seorang fighter. Ketika memasuki ring, saya berdoa dan secara ajaib konsentrasi dan mental saya mantap dan tidak terganggu oleh apapun.

2. Teknik, saya seringkali melihat video-video UFC dan Pride FC, mempelajari gerakan-gerakan fighter idola saya dan melatihnya. Seringkali saya berlatih sendiri di luar jam latihan kami bersama untuk melatih teknik-teknik tersebut.

Dari segi teknik, saya menyadari bahwa untuk sukses di MMA tidak cukup hanya belajar satu aliran. Adalah jalan langit ketika saya diajak berlatih gulat oleh Bang Surya Saputra, peraih medali emas di PON dan SEA Games dari cabang gulat. Ketika pertama kali berlatih bersama, saya sangat takjub dan kagum oleh teknik-teknik gulat ini, saya yang terbiasa melakukan lemparan dengan menggunakan Gi tidak bisa melakukan bantingan apapun kepada beliau ketika sparing tanpa Gi, justru saya yang dibanting oleh beliau. Gulat free style dan Greco roman sangat sesuai untuk MMA karena bantingan dan lemparannya tidak mengandalkan pegangan Gi. Semenjak itu saya mulai berlatih gulat bersama bang Surya.

Setelah beberapa bulan berlatih gulat, saya semakin percaya diri dengan kemampuan saya menjatuhkan lawan. Skill baru ini sangat berperan ketika saya bertarung untuk memperebutkan sabuk juara kelas ringan TPI FC melawan Yohan Mulya. Yohan Mulya adalah petarung kick boxing yang sangat handal, ketika itu dia tak terkalahkan dan baru saja mengalahkan Linson Simanjuntak, Legenda TPI FC. Malam sebelum pertarungan, Johnny berkata kepada saya:

“Fransino, pertarungan kali ini lain dari pertarungan kamu yang sudah-sudah. Pertarungan kali ini adalah untuk memperebutkan sabuk juara. Nama kamu akan dicatat dalam sejarah apabila kamu berhasil merebut sabuk itu. Kamu ingat ketika pelatih kita kalah dan saya bilang bahwa bendera perguruan kita sudah diambil dan kita harus merebut kembali? Yohan berasal dari perguruan yang sama dengan orang yang telah mengalahkan pelatih kita, pertarungan kali ini adalah kesempatan kamu untuk merebut kembali bendera perguruan kita”.

Dengan beban seperti itu saya bertarung dengan Yohan Mulya, demi nama baik perguruan, saya tidak boleh kalah. Saya menyadari bahwa kemungkinan saya untuk memenangi pertarungan ini adalah dengan membawanya ke pertarungan bawah. Dengan skill baru saya itu, saya berhasil menjatuhkan Yohan dan melakukan kuncian armbar, maka sejak saat itu sayalah pemegang sabuk juara TPI FC untuk kelas ringan dan merebut kembali bendera perguruan kami.

Sabtu, 06 September 2008

My Journey

Pada suatu ketika disore hari yang hujan, saya bermain sepakbola melawan tim sepakbola yang berasal dari bagian timur Indonesia. Adalah bagian dari budaya sepakbola Indonesia untuk berkelahi di lapangan, sore hari itu pun saya berkelahi dilapangan. Pada saat berkelahi itu, lawan saya berhasil melakukan headlock (kuncian kepala) dari posisi berdiri, dari situ dia melancarkan pukulan bertubi-tubi ke kepala saya. Perkelahian kami berlangsung cukup lama, karena tidak ada yang memisahkan, nampaknya para pemain yang lain menikmati acara perkelahian itu. Singkat cerita, setelah pulang kerumah dalam kondisi babak belur, saya menonton acara UFC-1 yang ditayangkan oleh stasiun TV kita.Disitu saya melihat sosok Royce Gracie, seorang praktisi Brazilian Jiu Jitsu (BJJ), pada saat dia bertarung, ada satu posisi yang mengingatkan saya pada perkelahian saya di sore hari, namun bedanya, Royce Gracie berhasil menang, sedangkan saya babak belur. Dari situ saya langsung jatuh cinta pada UFC ini, dalam hati saya berkata “saya harus belajar Brazilian Jiu Jitsu.”

Segeralah saya mencari-cari dimana saya bisa belajar BBJ, namun ternyata di Indonesia belum ada dojo BJJ itu. Beberapa bulan kemudian, di kampus saya ada UKM beladiri yang membuka pendaftaran untuk anggota baru, beladiri itu adalah Jiu Jitsu I.J.I. Saya pikir karena sama-sama Jiu Jitsu, pasti tak akan jauh beda. Tanpa pikir panjang lagi saya langsung mendaftar dan mulai berlatih Jiu Jitsu I.J.I. Pelatih saya waktu itu adalah Mas Harmudianto, SE.

Pada saat itu para praktisi beladiri di Indonesia bersatu untuk membuat satu acara seperti UFC, maka muncullah TPI Fighting Championship (TPI FC). Jiu Jitsu I.J.I pun menuruni atletnya untuk turut serta dalam TPI FC, salah satunya adalah pelatih saya, Mas Harmudianto, SE. Diawal TPI FC, masih jarang sekali ada petarung yang melakukan cross training. Para petarung membawa nama perguruan masing-masing dan adalah hal yang tabu untuk melakukan cross training. Karena pelatih saya akan tanding di ajang TPI FC, maka kami (murid-murid Jiu Jitsu I.J.I Universitas Tarumanagara) turut membantu persiapan Mas Harmudianto. Pada waktu itu ada 3 orang yang aktif membantu Mas Harmudianto, yaitu Johnny, Rudi, dan saya. Melihat semangat Mas Harmudianto dalam berlatih, secara tidak sadar kami pun tertular semangatnya. Berbulan-bulan kami berlatih bersama untuk menghadapi pertarungan di TPI FC ini, sehingga terjalinlah hubungan persaudaraan yang erat antara kami dan pelatih.


Beberapa hari sebelum hari H pertandingan, Mas Harmudianto terjatuh dari motornya yang mengakibatkan luka di lututnya. Saya pun berkata “udah mas mundur aja dari pertandingannya!”, lalu dia berkata “saya ini bertanding bukan untuk diri sendiri, saya bertarung untuk nama perguruan. Kalau saya mundur, apa kata orang mengenai perguruan kita nanti?” maka dengan lutut yang masih cedera Mas Harmudianto pun tanding di TPI FC. Lawan pelatih saya berbadan lebih besar dan lebih muda, beberapa kali Harmudianto berhasil membanting lawannya, namun pada akhirnya harusnya menyerah setelah di ground and pound dengan telak oleh lawannya.

Setelah berbulan-bulan berlatih bersama, kekalahan Mas Harmudianto adalah pukulan telak bagi saya. Johnny pun berkata “fransino, bendera perguruan kita sudah diambil. Kita harus merebut kembali!”. Malamnya kami bertemu dengan Mas Harmudianto, beliau pun memberi wejangan “Johnny, Rudi, Fransino, kalian tidak perlu bersedih atas kekalahan saya. Memang waktu saya sudah lewat, umur saya juga sudah tidak muda lagi. Sekarang giliran kalian yang masih muda-muda ini untuk menggantikan saya. Tunjukan pada orang-orang bahwa aliran kita adalah yang terbaik!!”. Berbekal dari wejangan Mas harmudianto, kami pun bertekad untuk turun ke ajang TPI FC.

to be continued....

Jumat, 22 Agustus 2008

Krav Maga Indonesia

Pada tanggal 20 Agustus 2008 tempat latihan saya di muara karang kedatangan seorang tamu istimewa, Bapak David Hermawan. Beliau ini adalah pelatih Krav Maga Indonesia. Saya memang memohon kehadiran beliau untuk menunjukan Krav Maga kepada murid-murid saya. Selama ini mungkin saya dan murid-murid saya berlatih Brazilian Jiu Jitsu dan Mixed Martial Arts melulu, sehingga kedatangan Bapak David ini membawa suasana baru di Dojo saya. Saya dan murid-murid juga diingatkan akan hakikat awal bela diri, selama ini saya telah mengembangkan beladiri ke arah sport dan agak melupakan tujuan awal berlatih bela diri, yaitu survival di pertarungan jalanan. Untuk itu saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas ajaran dan kunjungan Bapak David Hermawan, semoga Krav Maga Indonesia bisa maju dan persaudaraan kita semakin kokoh.

Jumat, 27 Juni 2008

U make me happy..

Sudah setahun lebih saya menjadi seorang pelatih, banyak suka dan duka telah saya lalui bersama dengan para murid-murid. Sebagai pelatih saya ingin selalu menjalin hubungan lebih dari sekedar guru dan murid, tapi juga sebagai teman/saudara. Sebagai pelatih saya mempunyai tujuan sebagai berikut:

1. Happiness

Saya ingin murid-murid saya merasa bahagia berlatih dengan saya. Bahagia karena latihannya menyenangkan, bisa melepaskan stress dan dahaga mereka. Ketika murid saya berkata “ Fransino, great training today, I’m really really happy today.” Itulah kepuasan terbesar saya sebagai pelatih.

2. Enjoy

Saya ingin murid-murid saya menikmati waktu latihan bersama saya, menikmati proses belajar dan sparing bersama.

3. Skillful

Saya ingin murid-murid saya menjadi lebih ahli setelah belajar bersama saya.

4. Strong

Saya ingin murid-murid saya menjadi lebih kuat dan segar setelah berlatih bersama saya.

5. Courageous

Saya ingin murid-murid saya menjadi lebih berani setelah belajar bersama saya, lebih berani dalam berlatih dan bertanding, dan tentunya juga di kehidupan nyata.

Dari kelima tujuan tersebut bagi saya yang paling penting adalah Happiness, maka dari itu bagi para pelatih, cobalah berikan kebahagian kepada murid-murid anda melalui ajaran-ajaran anda, karena kebahagiaan itu lah yang akan membuat murid-murid anda menghargai ajaran anda.

Sabtu, 26 Januari 2008

Battle on Bali Report



Untuk menghadapi lawan kali ini awalnya saya mempersiapkan diri seperti yang biasa saya lakukan, siang bekerja dan malam baru latihan. Jadwal latihan saya seperti ini:

Senin & Rabu : 19.00-21.00 melatih di muara karang, sebelum melatih saya melakukan conditioning bersama murid-murid saya selama 20 menit.

Selasa & kamis :16.00-18.00 latihan shansou bersama Alfred Maweru di senayan.

21.00-22.00 Sparring MMA di Grande.

Dengan porsi latihan seperti diatas, saya sadar bahwa persiapan saya sangat kurang. Kompetisi MMA di jaman sekarang ini sangat menuntut waktu latihan, bila saya ingin tampil maksimal saya harus berlatih lebih keras. Dua minggu menjelang hari H, saya memutuskan untuk pergi ke Bali dan berlatih full time karena pelatih saya, Profesor Niko Han, sedang berada di Bali.

Berlatih di Bali memberikan nuansa baru dalam persiapan saya, sebab baru kali ini saya bisa berlatih full time, tidak memikirkan masalah pekerjaan dikantor, tidak ada macet yang bikin stress, berlatih di alam Bali yang cuantik, jiwa dan raga saya persiapkan untuk pertandingan ini. Latihannya sendiri sangat melelahkan, namun justru karena lelah sehabis latihan itu saya jadi sangat menikmati istirahat saya sambil menikmati alam Bali.

Di TPIFC saya terbiasa bertanding dengan support dari kawan-kawan saya yang menonton langsung, ketika saya tanding di Beijing tidak ada yang support saya, tidak ada kawan yang berteriak untuk menyemangati, saya baru menyadari pentingnya arti supporter. Awalnya saya pikir pertandingan kali ini pun akan sama, karena saya tidak kenal siapapun di Bali. Namun ternyata disana saya berkenalan dengan orang-orang yang sangat baik, ramah, dan cool abis..Peter, Raymond, Yos, Kevin, Max, Syran, Putu, dll...Mereka sangat antusias dalam memberikan dukungan dan semangat, mereka membuat saya seperti tanding di kandang sendiri, thanks you guys...

Pertarungannya sendiri berjalan cukup baik bagi saya, saya berhasil melakukan take down, namun saya terlalu bernafsu untuk menghabisi lawan sehingga saya kurang memperhatikan posisi yang menyebabkan lawan berhasil berdiri kembali, dari sini sini kami saling bertukar pukulan, merasa diatas angin, saya maju terus dan kombinasi uppercut kanan dan hook kiri saya berhasil menjatuhkan lawan ke kanvas, secepatnya saya melakukan ground and pound, 4 hook kanan saya bersarang telak ke muka lawan dan wasit menghentikan pertandingan di menit ke 2.18.

Kemenangan saya kali ini adalah yang pertama kalinya melawan orang bule, saya telah berhasil menaklukan sang Monster, saya telah menunjukan bahwa kualitas MMA di indonesia tidak kalah dibandingkan dengan eropa. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pelatih saya Profesor Niko Han, Alfred Maweru, rekan-rekan fighter indonesia, kawan-kawan di Bali, and last but not least to my girlfriend, Yanti, yang telah mendukung dan mendoakan saya disetiap tindakan saya.

Selasa, 18 Desember 2007

Fighting Monster

Pada tanggal 27 Desember 2007 saya dijadwalkan untuk bertanding MMA melawan Andreas Hasselback di Jimbaran-Bali. Andreas ini adalah orang Swedia yang kemudian menetap di Thailand. Pertarungan saya kali ini adalah yang pertamakalinya menghadapi orang Bule. Orang bule dimata orang-orang asia sering kali mendapat penghargaan lebih, orang bule dianggap lebih ganteng, lebih pintar, lebih tinggi, lebih kuat, dll. Secara tidak langsung banyak orang asia yang menganggap bule adalah ras yang lebih superior, mungkin juga karena efek kolonialisme, dimana bangsa asia dulunya dijajah oleh bangsa eropa. Secara tidak sadar, saya pun beranggapan demikian, seringkali saya merasa bule lebih kuat dari saya.

Memang benar adanya bahwa bule rata-rata lebih tinggi dan lebih besar dibanding orang asia, karena dia lebih tinggi dan lebih besar, maka tak heran pula kalo mereka lebih kuat dibanding orang asia. Secara fisik mereka berbeda dengan orang-orang asia, kulit mereka putih, rambutnya kuning, matanya biru, hidungnya mancung, dll. Di jepang pernah ada cerita mengenai Tengu. Tengu adalah monster berhidung panjang, bertubuh besar dan kuat, serta berambut kuning. Setelah diselidiki sejarah cerita itu, ternyata yang dimaksud dengan monster Tengu itu adalah bule yang terdampar di Jepang. Lawan saya kali ini pun lebih tinggi dan lebih besar dibanding saya, matanya biru dan rambutnya kuning. Karena dia berasal dari swedia, maka bisa disebut bangsa Vikings. Bangsa Vikings adalah bangsa petarung tangguh yang ada di daratan eropa.

Pertarungan saya kali ini mempunyai arti tersendiri bagi saya, karena saya ingin membuktikan bahwa bangsa asia tidak lebih lemah dari bule, saya ingin membuktikan bahwa melalui latihan yang keras dan tekad yang kuat, manusia biasa seperti saya bisa mengalahkan Monster Tengu Vikings.

Rabu, 28 November 2007

2007 What a Year

Saya ingin bercerita mengenai apa saja yang saya lakukan, yang berhubungan dengan dunia persilatan selama tahun 2007.


Januari 2007

Tahun 2007 ini saya mulai dengan perasaan yang sangat segar dan berbunga-bunga, karena saya baru saja memenangi Djarum Super Submission Championship 2, saya mengulangi sukses pertama saya, yaitu Juara di kelas 76Kg, Absolute, dan Top Submission. Dengan bekal itu saya diyakinkan oleh pelatih saya Profesor Niko Han untuk membuka Dojo sendiri. Beliau berkata “Dude, you’re the two times champion of indonesian Submission Championship, you have what it takes to teach. Besides, teaching will help your game”. Kebetulan waktu itu ada tempat yang kosong dan siap digunakan untuk dijadikan Dojo, juga atas kebaikan Martin untuk meminjamkan matrasnya, segeralah saya membuka Dojo pertama saya di Klub Ade Rai Puri.

Maret 2007

Saya mendapat kabar bahwa Profesor Niko Han dan Nicolay Holt akan bertanding di SEA Grappling Games di Bangkok-Thailand. Mendengar pelatih dan rekan latihan saya akan bertanding, saya ikut tergoda untuk ikut bertanding juga. Dipertandingan ini saya merasakan untuk pertama kalinya kalah dalam kompetisi. Perlu diketahui bahwa sebelumnya saya belum pernah kalah sekalipun dalam kompetisi beladiri. Tidak tanggung-tanggung, saya kalah tiga kali dalam kompetisi tersebut. Awalnya saya merasa kecewa atas kekalahan itu, namun saya segera sadar bahwa kemenangan bukanlah segala-galanya, kekalahan juga bukan akhir dari segala-galanya. Ketika saya kalah untuk pertama kalinya, Nicolay Holt berkata “Fransino, now I’m scared with you. Now that you have lost, I know you’ll train harder and come back stronger. I cant wait to see your progress”. Saya berterima kasih kepada orang yang mengalahkan saya, karena ia telah mengangkat beban “tak terkalahkan” saya.

-


Juni 2007

Synergy mengadakan kompetisi BJJ intern yang dimaksudkan bagi pemula-pemula agar bisa mendapat pengalaman kompetisi. Murid-murid saya pun mengikuti kompetisi ini. Saya menyarankan mereka untuk mengikuti kompetisi ini, karena mereka baru mempelajari BJJ, saya tak membebani mereka dengan target, yang penting mendapat pengalaman bertanding dan bisa merasakan atmosfer kompetisi. Seringkali saya melihat orang-orang yang baru pertama kali bertanding, muka-mukanya stress dan tegang sehingga tidak bisa tampil maksimal. Saya ingin murid-murid saya mengikuti kompetisi ini agar mereka terbiasa dan tidak stress menjelang kompetisi, kompetisi juga melatih mental mereka. Dalam melatih saya termasuk idealis, saya mau murid-murid saya menjadi lebih berani dan tangguh. Hasilnya diluar dugaan, dua murid saya mendapat medali. Sebagai pelatih saya puas dan bangga, bukan cuma karena mereka mendapat medali, tapi karena mereka berani bertanding, walaupun baru belajar.

-

September 2007

Setelah sekian lama saya mencari waktu untuk berlatih stand up fighting, akhirnya saya mendapat pelatih shansou (chinese kick boxing). Saya berlatih di KONI Kemakmuran dengan pelatih Om Surya dan Bang Iwan Sait. Tidak lama setelah saya berlatih, ada pertandingan PORDA Shansou, saya pun mengikutinya dan berhasil memenangi kompetisi tersebut.

Pada bulan september juga saya mendapat undangan untuk bertanding MMA di Beijing-China, tak usah panjang lebar membahas ini, karena sudah dibahas, yang pasti setelah pertarungan di Beijing mata saya lebih terbuka mengenai MMA.

Di akhir bulan november, saya mendapat kejutan yang luar biasa dari pelatih saya Profesor Niko Han, beliau mempromosikan saya menjadi sabuk ungu.

November 2007

Djarum Super Submisson Championship 3 diadakan. Kompetisi kali ini agak berbeda bagi saya karena kali ini saya tidak bertanding sendirian, kali ini saya punya murid-murid yang ikut tanding juga. Ternyata hasilnya luar biasa, karena selain saya mengulangi sukses tahun lalu, satu murid saya berhasil mendapat sabuk juara. Kebahagian saya terasa berlipat-lipat, karena sebagai fighter saya berhasil mendapat sabuk juara untuk 3 tahun berturut-turut, dan sebagai pelatih, murid saya juga berhasil mendapat sabuk juara.

-


Desember 2007

Saya akan bertarung melawan Andreas Hasselback dari Swedia. Saya belum tarung dengan dia, namun saya yakin akan sangat menikmati pertarungan ini, apapun hasilnya. Pertarungan ini akan diselenggarakan di pulau dewata, Bali.

Dengan semua pencapaian tersebut diatas, maka bagi saya tahun 2007 is one of the best year. Semoga tahun 2008 akan lebih baik...Kira-kira gimana yah?